Langsung ke konten utama

Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam Pemetaan Tematik Sebagai Basis Data Pengembangan Potensi Wisata Kalurahan Girikarto

 Pariwisata merupakan salah satu sektor penting di Indonesia. Dengan keberagaman budaya dan keindahan alamnya, Indonesia mampu meningkatkan daya saing pariwisata setiap tahunnya. Hal tersebut dibuktikan dengan kedudukan Indonesia sebagai peringkat ke-40 pada tahun 2019 lalu, yang tentunya mengalami kenaikan dari tahun 2015 pada posisi ke-50 dan tahun 2017 menempati peringkat ke-42. Namun sangat disayangkan ketika Indonesia dengan kekayaan budaya dan wisatanya masih dapat dikalahkan dengan negara-negara ASEAN lainnya seperti Singapura, Thailand, Vietnam dan Malaysia. Di masa pandemi, terjadi penurunan jumlah wisatawan terhadap pariwisata. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2021 jumlah wisatawan Mancanegara ke Indonesia sebesar 4,02 juta pengunjung dan mengalami penurunan sebesar 75,03 persen dibanding dengan tahun 2019. Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf menyatakan bahwa jumlah wisatawan lokal juga mengalami penurunan sebesar 60 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini tentu berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia terkhusus masyarakat yang berada dan bergantung hidup dengan sektor pariwisata.

Girikarto merupakan kalurahan yang berada di kecamatan Panggang Kabupaten Gunung Kidul. Daerah ini termasuk dalam zona selatan Gunung Kidul, sehingga memiliki morfologi Gunung Seribu. Dengan kondisi geografisnya yang terdiri dari jenis tanah mediterania merah dan litosol yang mayoritas tidak subur, daerah ini hanya mampu membudidayakan tanaman keras, umbi-umbian sebagai hasil panen untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, Girikarto memiliki objek wisata pantai yang berada pada lereng curam dengan keindahan alam yang khas.

Daerah ini memiliki potensi perikanan yang baik, dengan jumlah kapal mencapai 75 buah yang sudah tersedia di TPI Pantai Gesing. Hasil tangkapan yang kemudian dijual di TPI Gesing maupun pusat kuliner seafood di sekitar TPI Tersebut. Namun disayangkan ketika kondisi wisata pantai yang unik dan kuliner seafood belum dikelola secara modern dan maksimal. Inilah yang kemudian menjadi tugas dari generasi muda terkhusus mahasiswa dalam mengimplementasikan ilmu yang didapatkan pada jenjang Pendidikan untuk

berguna bagi masyarakat. Dimana, persentase generasi muda mendominasi dalam penggunaan teknologi (Kompas.com). Penerapan ilmu yang didapatkan dengan kombinasi teknologi yang kemudian menghasilkan suatu inovasi dalam menjawab permasalahan. Dalam penulisan ini, pemanfaatan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan software berupa ArcGIS 10.6.1 yang digunakan dalam pemetaan tematik untuk menyajikan informasi berbasis bidang (spasial) yang dapat bermanfaat bagi penduduk local, pengunjung, pemerintah kalurahan, maupun pemerintah daerah dalam pembuatan suatu kebijakan.

Pemetaan Tematik

Peta tematik merupakan peta yang memperhatikan informasi kualitatif dan/atau kuantitatif dari suatu unsur tertentu yang berhubungan dengan detail topografi. Peta tematik adalah peta khusus yang dirancang dan disajikan untuk menunjukkan tema tertentu yang berhubungan dengan area geografis yang dapat menggambarkan suatu kondisi ekonomi, sosial budaya, politik, fisik, pertanian dan aspek lain yang berada di perkotaan maupun pedesaan. Dalam pembuatannya, suatu lokasi menjadi sangat penting. Hal ini berhubungan dengan penyajian informasi yang akan diberikan dalam peta tematik tersebut.

Guna membuat peta tematik diperlukan peta dasar berupa peta topografi dan data-data yang sesuai. Dalam pelaksanaannya, peta yang harus dipersiapkan untuk pembuatan peta-peta tematik paling utama adalah peta dasar yang digunakan sebagai dasar pembuatan peta-peta lainnya. Peta dasar berisi komponen dasar yang letaknya telah diketahui secara pasti di lapangan seperti jalan, sungai, tempat-tempat penting, penyebaran titik dasar teknik, dan tanda-tanda alam lainnya yang dapat dijadikan dasar dalam pembuatan peta-peta lainnya. Peta dasar dipersiapkan berdasarkan dengan Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI), foto udara, citra satelit, peta dasar pendaftaran dan peta desa.

Pemanfaatan SIG dalam Mengembangan Potensi Wisata Girikarto

Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk melakukan pengolahan terhadap data yang didapatkan dari survei lapangan maupun BIG DATA yang kemudian menghasilkan informasi berbasis spasial (bidang) yang dapat berguna bagi seluruh elemen masyarakat. Dalam informasi yang disajikan melalui peta tersebut dapat dijadikan basis data dalam melakukan identifikasi potensi sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan, cara yang tepat untuk mengelola, dan kebijakan yang perlu diambil dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

Melalui informasi yang disajikan secara spasial pun kita dapat mengetahui kondisi sosial ekonomi kalurahan Girikarto yang 67% penduduknya bergantung pada pertanian dan 22% sebagai buruh dengan produksi pertanian berupa ubi kayu (33%), padi sawah dan bukan sawah (24%), kacang tanah (12%), kedelai (1%) dan jagung (30%). Hal ini dikarenakan Girikarto memiliki tanah yang kurang subur dengan intensitas curah hujan yang rendah setiap tahunnya.

Jika kita sebagai mahasiswa yang lebih melek terhadap teknologi dan pengetahuan tidak turun andil dalam permasalahan ini, maka daerah Girikarto dengan potensi wisatanya yang khas tetap akan menjadi tempat usang tanpa peminat. Teori lingkaran setan (poverty trap) yang terus terjadi dalam masyarakat Girikarto yang disebabkan oleh rendahnya daya jual, rendahnya tingkat pendidikan dan kapasitas, upah yang rendah, dan Unskilled labour menjadikan Girikarto dan masyarakatnya tidak berkembang.

Potensi sumber daya alam yang banyak tanpa diseimbangi oleh SDM yang baik pun akan menjadi suatu hal yang mustahil dalam perkembangannya. Kemajuan teknologi dan pendidikan, serta generasi muda yang melek teknologi merupakan satu kesatuan yang dapat mengelola sumber daya alam menjadi suatu yang bermanfaat. Girikarto sebagai daerah paling selatan bagi D.I Yogyakarta perlu perhatian lebih, baik dalam fasilitas umum dan sosial, maupun dalam pengembangan potensi wisatanya. Salah satu wisata yang telah berkembang dan dikelola investor yaitu Heha Ocean View sebagai wisata di dataran tinggi dengan tebing curam yang disulap menjadi indah dan bernilai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEADILAN GENDER DITENGAH PELAKSANAAN REFORMA AGRARIA

  KEADILAN GENDER DITENGAH PELAKSANAAN REFORMA AGRARIA Konflik agraria merupakan konflik yang terjadi di belahan dunia manapun termasuk Indonesia. Pada tahun 2018, YLBHI telah menangani 300 konflik agraria yang terjadi di 16 provinsi pada sektor pertanian, perkebunan, permukiman, pertambangan, kehutanan, pesisir, infrastruktur dan energi. Dalam konflik agraria tersebut, YLBHI menemukan sekurangnya 367 kasus pelanggaran HAM dengan luas lahan konflik 488.404,77 Ha yang pelakunya didominasi oleh perusahaan dan pemerintah daerah. Konflik ini dapat terjadi oleh beberapa faktor seperti penguasaan atas tanah serta perebutan sumber daya alam yang menimbulkan kesenjangan terhadap sumber agraria. Hak Guna Usaha (HGU) sebagai salah satu produk dari UU Agraria yang dibuat pada masa penjajahan tahun 1870 dianggap memberikan kesempatan pada korporasi untuk menguasai lahan hingga memiliki hak untuk menggusur tanah milik rakyat. Dilansir dari katadata.com bahwa konflik agraria banyak terjadi pada ...

REFORMA AGRARIA SEBAGAI MOMENTUM KESEJAHTERAAN

  REFORMA AGRARIA, MOMENTUM KESEJAHTERAAN? “.... bahwa revolusi tanpa landreform adalah sama saja dengan gedung tanpa alas, sama saja dengan pohon tanpa batang, sama saja dengan omong besar tanpa isi; Tanah tidak boleh menjadi alat penghisapan! Tanah untuk tani! Tanah untuk mereka yang betul-betul menggarap tanah!” (Soekarno, Djalannja Revolusi Kita, Pidato Kenegaraan 17 Agustus 1960) Tanah memiliki fungsi yang vital terhadap kehidupan manusia hingga menyebabkan tanah tidak dapat dinilai hanya dari segi ekonomis saja. Urgensi terhadap pengaturan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah pun sudah lama disadari oleh masyarakat dunia. Menurut sejarah, penataan wilayah atas tanah sudah terjadi sejak ribuan tahun lalu sebelum masehi. Pada saat itu, Yunani kuno pertama kali menggunakan istilah ‘Land Reform’ saat pemerintahan Solon pada 594 sebelum masehi, sedangkan reforma agraria terbentuk pada 486 tahun sebelum masehi. Dimana dalam undang-undang tersebut disebutkan bahwa...

Hutan Leuser dan Kemelut Proyek Energi

              Selama masa pandemi, Konsorium Pembaharuan Agraria (KPA) sudah mencatat sebanyak 9 konflik agraria. Menurut Sekretaris Jendral KPA Dewi Kartika, mengatakan bahwa pada masa pandemi Covid-19 ini masih banyak terjadi penggusuran,  penanganan represif, intimidasi, ancaman, dan kriminalisasi terhadap masyarakat di perdesaan. Hal tersebut membuat saya flashback terhadap hutan leuser yang saat itu tengah berada dalam genggaman kapitalis.            Seperti yang kita ketahui bahwa Taman Nasional Hutan Leuser merupakan taman nasional yang berada di provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Dengan luas sekitar 2,6 juta hektar yang berisi satwa. Hutan Leuser menjadi pusat perhatian pubik karena menjadi objek dan daya tarik wisata.    Contohnya yaitu pusat pengamatan orangutan Sumatera. Namun, saat ini ada hal lain yang menyita perhatian publik untuk taman Hutan Leuser, yaitu a...